The Veil of Ignorance
cara mendesain masyarakat yang adil jika kamu tidak tahu akan jadi siapa
Bayangkan kita sedang berada di sebuah pesta, dan di hadapan kita ada seloyang piza yang sangat menggoda.
Sekarang, kita diberi tugas untuk memotong piza tersebut. Namun, ada satu aturan main yang tidak bisa diganggu gugat: orang yang memotong piza akan menjadi orang terakhir yang mengambil potongannya.
Kira-kira, apa yang akan kita lakukan?
Hampir bisa dipastikan, kita akan memotong piza itu dengan ukuran yang sedemikian rupa sama rata. Kita tidak akan berani memotong satu bagian terlalu kecil, karena kita tahu persis kitalah yang kemungkinan besar akan terjebak mendapatkan potongan terkecil itu.
Ini adalah trik sederhana yang sering dipakai orang tua untuk melerai anak-anaknya yang berebut makanan. Tapi, mari kita simpan piza ini sejenak dan beralih ke skala yang jauh lebih besar. Mari kita bicara tentang dunia tempat kita hidup.
Dunia kita jelas bukan seloyang piza yang dipotong rata. Ada yang lahir di keluarga konglomerat, ada yang lahir di daerah konflik. Ada yang terlahir dengan fisik sempurna, ada yang harus berjuang dengan penyakit genetik. Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana jadinya jika kita yang ditugaskan untuk memotong "piza" peradaban ini?
Masalahnya, merancang dunia yang adil itu luar biasa sulit. Sepanjang sejarah, umat manusia selalu membentur tembok yang sama: ego.
Secara psikologis, otak kita memang diprogram untuk mengutamakan diri sendiri dan kelompok kita. Dalam ilmu psikologi, ini sering disebut sebagai self-serving bias. Kita cenderung melihat dunia dari lensa keuntungan pribadi.
Jika kita lahir sebagai bangsawan di abad pertengahan, kita mungkin akan berpikir bahwa sistem kasta itu wajar dan memang "sudah takdirnya". Sebaliknya, jika kita lahir sebagai petani yang harus membayar pajak selangit, kita pasti merasa sistem itu adalah penindasan yang kejam.
Sejarah umat manusia penuh dengan hukum yang dibuat oleh mereka yang sedang berkuasa, untuk memastikan mereka tetap berkuasa. Kebijakan ekonomi, akses kesehatan, hingga sistem pendidikan sering kali dirancang oleh orang-orang yang sudah duduk nyaman di kursi empuk.
Lalu, bagaimana kita bisa keluar dari bias ini? Kalau otak kita selalu mencari jalan untuk menguntungkan diri sendiri, mungkinkah kita menciptakan sebuah sistem yang benar-benar adil untuk semua orang?
Di pertengahan abad ke-20, seorang filsuf politik bernama John Rawls merasa sangat terganggu dengan pertanyaan tersebut.
Rawls tidak mau hanya marah-marah melihat ketidakadilan. Dia ingin mencari solusi. Dia mencari sebuah formula, semacam eksperimen pikiran yang logis dan hampir matematis, untuk memaksa manusia merancang masyarakat yang adil.
Dia menyadari bahwa menceramahi orang untuk menjadi "baik hati" atau "berempati" itu sering kali tidak efektif. Otak manusia terlalu pintar mencari alasan untuk membenarkan keegoisannya.
Jadi, Rawls memikirkan sebuah peretasan psikologis. Sebuah hack yang brilian.
Bagaimana jika kita tidak perlu membuang sifat egois manusia? Bagaimana jika, alih-alih melawan keegoisan itu, kita justru memanfaatkannya sebagai senjata utama untuk menciptakan keadilan?
Pertanyaannya: kondisi seperti apa yang bisa memaksa orang paling egois sekalipun untuk membuat aturan yang menguntungkan orang paling lemah?
Untuk menjawabnya, Rawls memperkenalkan sebuah konsep legendaris yang ia sebut sebagai The Veil of Ignorance, atau Selubung Ketidaktahuan.
Mari kita lakukan eksperimennya bersama-sama. Bayangkan teman-teman sekarang berada di sebuah ruang tunggu kosmis sebelum dilahirkan. Di ruangan ini, yang Rawls sebut sebagai Original Position, teman-teman ditugaskan untuk menulis segala aturan, hukum, dan sistem ekonomi untuk dunia di bumi nanti.
Tapi ada satu syarat mutlak: Teman-teman tidak tahu akan lahir menjadi siapa.
Di balik Veil of Ignorance ini, kita buta sama sekali terhadap nasib kita sendiri. Kita tidak tahu apakah kita akan lahir sebagai laki-laki atau perempuan, ras mayoritas atau minoritas, anak miliarder atau anak panti asuhan. Kita tidak tahu apakah kita akan lahir dengan IQ jenius, atau lahir dengan disabilitas fisik yang parah.
Sekarang, dengan kondisi buta nasib seperti itu, aturan seperti apa yang akan kita buat?
Apakah kita berani membuat aturan yang melegalkan perbudakan? Tentu tidak, karena ada risiko 50% kita lahir sebagai budak.
Apakah kita akan membuat sistem kesehatan yang hanya bisa diakses oleh orang super kaya? Pasti kita tidak mau, karena kita sangat mungkin terlahir sebagai orang miskin yang sakit-sakitan.
Tiba-tiba, secara otomatis, kita akan merancang kota yang ramah kursi roda. Kita akan memastikan ada jaring pengaman sosial untuk mereka yang miskin. Kita akan menuntut pendidikan gratis yang berkualitas tinggi.
Kenapa? Bukan karena kita tiba-tiba menjadi malaikat yang suci. Tapi karena kita takut terjebak menjadi pihak yang paling menderita.
Di balik selubung ketidaktahuan, pilihan yang paling egois berevolusi menjadi pilihan yang paling penuh empati. Ini persis seperti aturan memotong piza di awal tadi.
Tentu saja, di dunia nyata, kita tidak bisa kembali ke ruang tunggu kosmis. Kita semua sudah terlanjur lahir. Kita tahu apa gender kita, ras kita, isi dompet kita, dan status sosial kita.
Namun, The Veil of Ignorance bukanlah mesin waktu. Ia adalah sebuah alat bantu kognitif. Sebuah kacamata empati yang bisa kita pakai kapan saja.
Setiap kali kita berdebat tentang sebuah kebijakan—entah itu soal kenaikan upah minimum, pajak, fasilitas untuk penyandang disabilitas, atau sekadar aturan antrean di kasir swalayan—cobalah berhenti sejenak. Tutup mata kita, kenakan selubung itu, dan bertanyalah pada diri sendiri:
"Apakah saya akan tetap setuju dengan aturan ini, seandainya saya adalah orang yang paling tidak diuntungkan di dalam ruangan?"
Keadilan sejati mungkin bukan tentang memastikan semua orang mendapatkan hal yang persis sama. Keadilan sejati adalah ketika kita berani merancang sebuah permainan, di mana kita merasa aman dan dihargai, terlepas dari kartu apa pun yang dibagikan oleh takdir kepada kita.